Hubungan Yang Baik
Seandainya anda jadi saya, anda akan berpikir bahwa
mempertahankan hubungan adalah hal yang mudah.
Sewaktu kita kecil, kita tidak pernah berpikir untuk
dengan sengaja menjalin hubungan dengan seseorang.
Semua itu terjadi begitu saja dan jika karena suatu
alasan hubungan itu tidak berhasil, kita segera
meninggalkan tanpa pusing maupun repot-repot.
Namun suatu saat kita mulai mengenal percekcokan dalam
hubungan dewasa dan persoalan itu menjadi serba tidak
pasti. Mungkin kita pernah mengalami bahwa beberapa
orang lebih sulit, bahkan mustahil untuk diajak
bergaul dan kita mengetahui bahwa sahabat-sahabat
yang dipercaya pun dapat menghianati, serta
kritik-kritik destruktif yang dilontarkan dan
persahabatan pun mulai renggang. Namun kita tahu bahwa
kita tidak dapat memutuskan hubungan begitu saja
setiap kali menghadapi rintangan, kecuali jika ingin
menjadi pertapa. Ketika hubungan itu membuat kita
kesal, kadang-kadang berharap hidup tanpa hubungan
(menyendiri).
Andaikan kita hidup di sebuah kapal dan tidak menyukai
awak kapal, kita tidak akan menenggelamkan kapal itu
kecuali jika ingin bunuh diri. Saat badai datang
melanda, tentu kita akan mulai berjuang bersama-sama
dengan sekuat tenaga untuk menyelamatkanya atau
sebaliknya kapal akan tenggelam. Dalam hal seperti ini
pasti akan timbul pemahaman arti dari sebuah hubungan.
Namun hubungan yang baik tentu saja tidak hanya
terbatas ditempat kerja, tapi karakter seseorang dalam
menjalin hubungan dapat terlihat di tempat kerja,
karena sebagian dari hidup kita dihabiskan ditempat
kerja. Kebahagiaan seseorang bukan hanya diukur pada
kesukesan, kekayaan dan penampilan, tetapi hal yang
paling menentukan adalah hubungan dengan sesama
(hubungan yang akrab).
Jika hubungan menjadikan kita begitu bahagia, mengapa
tidak dari sekarang kita memulai untuk menjalin
hubungan yang sehat dan akrab? Dengan begitu kita
dapat membuat diri kita tenang dan yang terpenting
kedamaian ada disekitar kita.
Tidak semua orang 'enak' dijadikan teman,
tetapi itu bukan alasan untuk tidak memiliki hubungan baik dengan mereka.
Wednesday, June 27, 2007
Friday, June 15, 2007
A rose for you with LOVE
beberapa hari yang lalu aku mendapat kiriman satu lusin bunga dari temanku
aku cuma menyisakan satu bunga saja
yang lainnya aku kirimkan pada teman2ku
aku berikan satu bunga kepada adik perempuanku
semoga dapat memberikan dia
kebahagiaan selalu
yang satunya aku berikan pada temanku yang sedang sedih waktu itu
kekuatan bunga ini yang diberikan padanya
lebih dari yang kubayangkan sebelumnya
yang satu lagi aku berikan pada teman yang belum kenal lama
waktu itu dia sedang mempunyai masalah yang sangat rumit
semoga dengan bunga itu dia dapat tabah dan maju terus
bunga2 yang lainya aku kirimkan pada orang2 yang pernah membantuku
dalam hari2ku yang tidak bisa kulewatkan sendiri
mereka selalu ada
sungguh sangat memberikan aku kekuatan
bunga2 ini sangat indah
sehingga membuatku tidak tega menikmatinya sendiri saja
hanya aku sisakan satu kuntum yang belum mekar
teman memberikan bunga2 ini padaku
mendoakan agar bunga2 ini membawa kebahagiaan dalam hari2 ku
tetapi kebahagiaan yang kuterima paling besar adalah
mengirimkannya lagi pada teman2ku yang lain
yang ini untukmu , apakah kamu menyukainya?
teman adalah harta yang sangat berharga
mereka dapat membuatmu tersenyum
membantu dan mendukungmu menuju kesuksesan
sekalipun kita mempunyai banyak masalah entah itu masalah keluarga, cinta sampai masalah yang berat sekalipun
mereka meminjamkan sepasang telinganya
untuk berbagi berbagai hal2 yang indah denganmu
mereka selalu membuka hatinya untukmu
....beritahu semua rekanmu betapa kamu membutuhkan mereka....
itu berarti kamu masih saling membutuhkan yang selalu .....
aku cuma menyisakan satu bunga saja
yang lainnya aku kirimkan pada teman2ku
aku berikan satu bunga kepada adik perempuanku
semoga dapat memberikan dia
kebahagiaan selalu
yang satunya aku berikan pada temanku yang sedang sedih waktu itu
kekuatan bunga ini yang diberikan padanya
lebih dari yang kubayangkan sebelumnya
yang satu lagi aku berikan pada teman yang belum kenal lama
waktu itu dia sedang mempunyai masalah yang sangat rumit
semoga dengan bunga itu dia dapat tabah dan maju terus
bunga2 yang lainya aku kirimkan pada orang2 yang pernah membantuku
dalam hari2ku yang tidak bisa kulewatkan sendiri
mereka selalu ada
sungguh sangat memberikan aku kekuatan
bunga2 ini sangat indah
sehingga membuatku tidak tega menikmatinya sendiri saja
hanya aku sisakan satu kuntum yang belum mekar
teman memberikan bunga2 ini padaku
mendoakan agar bunga2 ini membawa kebahagiaan dalam hari2 ku
tetapi kebahagiaan yang kuterima paling besar adalah
mengirimkannya lagi pada teman2ku yang lain
yang ini untukmu , apakah kamu menyukainya?
teman adalah harta yang sangat berharga
mereka dapat membuatmu tersenyum
membantu dan mendukungmu menuju kesuksesan
sekalipun kita mempunyai banyak masalah entah itu masalah keluarga, cinta sampai masalah yang berat sekalipun
mereka meminjamkan sepasang telinganya
untuk berbagi berbagai hal2 yang indah denganmu
mereka selalu membuka hatinya untukmu
....beritahu semua rekanmu betapa kamu membutuhkan mereka....
itu berarti kamu masih saling membutuhkan yang selalu .....
Thursday, June 14, 2007
KUNCI KEGAGALAN
Kita semua tidak ingin gagal. Kita semua menghindari kegagalan.
Tetapi rupanya kegagalan sangat akrab dalam kehidupan kita.Banyak target yang tak tercapai , banyak cita-cita yang tak terealisir,dan banyak harapan tinggallah kosong.
Mengapa kita gagal dan tidak mencapai keberhasilan?
Mengapa kita belum berhasil dan menemui kegagalan?
Apakah kegagalan merupakan realitas wajib sehingga keberhasilan dapat
kita apresiasikan? Pertanyaan pertanyaan diatas sering menghantui kita dan memerlukan jawaban dari kita masing-masing.
Kegagalan tidak terjadi dalam semalam. Keberhasilanpun tidak dicapai dalam sehari. Kedua tesis di atas sangat sederhana tetapi juga sangat benar.
Saya teringat ucapan seorang dokter tetangga saya, ketika pulang mengantarkan tetangga kami yang kena serangan jantung ke rumah sakit gawat darurat. Dia berkata bahwa sebetulnya serangan jantung tidak datang dengan tiba-tiba, tetapi bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun penyakit jantung telah ditimbun mulai dari merokok terlalu banyak, minum kopi terlalu banyak, malas olahraga sehingga sedikit demi sedikit pembuluh darah semakin menyempit.
Akhirnya sedemikian sempitnya sehingga kegagalan jantung terjadi.
Benarlah bahwa kegagalan jantung tidak terjadi dalam semalam melainkan ditumpuk bertahun-tahun, sedikit demi sedikit.
Keberhasilan pun berlangsung dengan modus yang sama, sedikit demi sedikit keberhasilan ditumpuk sedemikian rupa sehingga keberhasilan itu lama kelamaan besar.
Secara teoritis jika seseorang mempelajari lima kata bahasa Inggeris perhari maka dalam setahun dia akan memiliki hampir dua ribu kosa kata dan dalam lima tahun pasti bisa menguasai sepuluh ribu kosa kata.
Tetapi berapa banyakkah orang yang lulus perguruan tinggi mampu berbahasa Inggris dengan lancar? Tidak banyak. Mengapa? Karena mereka gagal menghafal lima bahasa Inggeris perhari.
Masih banyak contoh dapat kita berikan tentang kebenaran tesis bahwa keberhasilan adalah kemampuan mengambil langkah-langkah kecil untuk mencapai hasil yang besar. Dan bahwa kegagalan adalah ketidakmampuan menghindari hal-hal kecil sampai ia menumpuk sedemikian besar dan tak terhindarkan lagi konsuekuensinya.
Maka rahasia kegagalan adalah gagal mengucapkan selamat pagi, gagal mengucapkan terima kasih, gagal minta maaf, gagal mengurangi sepiring nasi dari diet harian, gagal memberi perhatian pada seorang staff, gagal mengusulkan kenaikan pangkat anak buah, gagal tersenyum, gagal bertekun setengah jam, gagal berolahraga setengah jam per hari, gagal sholat
sepuluh menit per waktu, gagal membawa mobil ke bengkel untuk servis rutin, gagal menabung 5% dari penghasilan per bulan, gagal menutup mulut dari ucapan
tak bermutu, dan ribuan kegagalan kecil lainnya.
Orang bijak berkata berkata bahwa hal-hal kecil memang sepele, tetapi setia pada perkara-perkara kecil adalah hal yang besar.
Tetapi rupanya kegagalan sangat akrab dalam kehidupan kita.Banyak target yang tak tercapai , banyak cita-cita yang tak terealisir,dan banyak harapan tinggallah kosong.
Mengapa kita gagal dan tidak mencapai keberhasilan?
Mengapa kita belum berhasil dan menemui kegagalan?
Apakah kegagalan merupakan realitas wajib sehingga keberhasilan dapat
kita apresiasikan? Pertanyaan pertanyaan diatas sering menghantui kita dan memerlukan jawaban dari kita masing-masing.
Kegagalan tidak terjadi dalam semalam. Keberhasilanpun tidak dicapai dalam sehari. Kedua tesis di atas sangat sederhana tetapi juga sangat benar.
Saya teringat ucapan seorang dokter tetangga saya, ketika pulang mengantarkan tetangga kami yang kena serangan jantung ke rumah sakit gawat darurat. Dia berkata bahwa sebetulnya serangan jantung tidak datang dengan tiba-tiba, tetapi bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun penyakit jantung telah ditimbun mulai dari merokok terlalu banyak, minum kopi terlalu banyak, malas olahraga sehingga sedikit demi sedikit pembuluh darah semakin menyempit.
Akhirnya sedemikian sempitnya sehingga kegagalan jantung terjadi.
Benarlah bahwa kegagalan jantung tidak terjadi dalam semalam melainkan ditumpuk bertahun-tahun, sedikit demi sedikit.
Keberhasilan pun berlangsung dengan modus yang sama, sedikit demi sedikit keberhasilan ditumpuk sedemikian rupa sehingga keberhasilan itu lama kelamaan besar.
Secara teoritis jika seseorang mempelajari lima kata bahasa Inggeris perhari maka dalam setahun dia akan memiliki hampir dua ribu kosa kata dan dalam lima tahun pasti bisa menguasai sepuluh ribu kosa kata.
Tetapi berapa banyakkah orang yang lulus perguruan tinggi mampu berbahasa Inggris dengan lancar? Tidak banyak. Mengapa? Karena mereka gagal menghafal lima bahasa Inggeris perhari.
Masih banyak contoh dapat kita berikan tentang kebenaran tesis bahwa keberhasilan adalah kemampuan mengambil langkah-langkah kecil untuk mencapai hasil yang besar. Dan bahwa kegagalan adalah ketidakmampuan menghindari hal-hal kecil sampai ia menumpuk sedemikian besar dan tak terhindarkan lagi konsuekuensinya.
Maka rahasia kegagalan adalah gagal mengucapkan selamat pagi, gagal mengucapkan terima kasih, gagal minta maaf, gagal mengurangi sepiring nasi dari diet harian, gagal memberi perhatian pada seorang staff, gagal mengusulkan kenaikan pangkat anak buah, gagal tersenyum, gagal bertekun setengah jam, gagal berolahraga setengah jam per hari, gagal sholat
sepuluh menit per waktu, gagal membawa mobil ke bengkel untuk servis rutin, gagal menabung 5% dari penghasilan per bulan, gagal menutup mulut dari ucapan
tak bermutu, dan ribuan kegagalan kecil lainnya.
Orang bijak berkata berkata bahwa hal-hal kecil memang sepele, tetapi setia pada perkara-perkara kecil adalah hal yang besar.
Wednesday, June 13, 2007
Garam dan Telaga
Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang
bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan.
"Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..",
ujar Pak tua itu. "Pahit. Pahit sekali", jawab sang tamu, sambil
meludah kesamping. Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak
tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu. Pak Tua itu, lalu
kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu.
"Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, "Bagaimana rasanya?".
"Segar.", sahut tamunya. "Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?", tanya Pak Tua lagi. "Tidak", jawab si anak muda.
Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.
"Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. "Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan
itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa
kamu lakukan.
Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."
Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. "Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan
merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."
Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu.
Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan "segenggam garam", untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.
bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan.
"Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..",
ujar Pak tua itu. "Pahit. Pahit sekali", jawab sang tamu, sambil
meludah kesamping. Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak
tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu. Pak Tua itu, lalu
kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu.
"Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, "Bagaimana rasanya?".
"Segar.", sahut tamunya. "Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?", tanya Pak Tua lagi. "Tidak", jawab si anak muda.
Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.
"Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. "Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan
itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa
kamu lakukan.
Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."
Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. "Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan
merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."
Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu.
Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan "segenggam garam", untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.
Subscribe to:
Posts (Atom)






