Friday, October 07, 2005
Khasiat lain biji buah Alpukat
Buah alpukat memang sangat disukai oleh banyak
orang termasuk saya atau mungkin anda juga.
Daging buahnya bisa di buat juice segar atau untuk
campuran cake bisa juga dimakan langsung.
Tetapi tahukah anda bahwa selain buahnya ternyata
biji buah alpukat bisa dipergunakan untuk
menghilangkan amarah atau kekesalan anda
terhadap seseorang.
Hal tersebut telah di buktikan oleh beberapa ahli
peneliti gizi dan pangan dari USA dan U.K pada
konggres International Food & Drink beberapa waktu
lalu di New York.
Jangan langsung membuang biji alpukat setelah anda
memakan dagingnya, tetapi simpanlah biji alpukat
tersebut dalam suatu tempat karena mungkin suatu
saat anda akan membutuhkannya kembali.
Sesungguhnya hal ini masih dirahasiakan para
peneliti gizi & pangan, namun penulis mendapat
kehormatan untuk membocorkan hal ini kepada anda.
Berikut ADALAH cara memanfaatkan biji alpukat
untuk menghilangkan stress anda Yaitu dengan cara :
1. Lemparkan biji alpukat tersebut kepada orang
yang membuat anda kesal, dijamin maka stress anda
akan sembuh.
he..he... gitu aja kok dibaca lhooooooo
ayo kerja lagi. klo ga pulanggg aja gih
**semoga ga da yg lagi stressss**
Tuesday, August 09, 2005
Friends at First Sight
Friends at First Sight
Oleh: Angela Christy
Sering dengar istilah Love at first sight? Ah, kalo itu kan sudah biasa. Kali ini aku pengen cerita tentang satu istilah baru. Friends at first sight.
Kadang kalau dipikir-pikir, hidup itu memang ajaib ya.
Coba kita pikir, dalam hidup kita sudah berapa banyak orang yang datang dan pergi.
Ada beberapa yang datang lalu pergi dan terlupakan begitu saja.
Ada yang datang lalu pergi dan membuat kenangan yang indah dalam hati kita, namun seiring berlalunya waktu merekapun perlahan terlupakan.
Ada yang datang lalu pergi dan membawa perubahan yang begitu besar dalam kehidupan kita
Ada yang datang lalu pergi namun selalu ada dalam hati kita dan tak akan pernah terlupakan.
Lalu ada yang datang dan pergi dan datang lagi lalu pergi, namun sesungguhnya selalu ada bersama kita, baik dekat ataupun jauh, selalu menemani kita, selalu ada bila kita membutuhkan. Orang-orang mengagumkan ini merupakan berkat yang diberikan Tuhan buat kita, dan kita mengenal mereka dengan sebutan Sahabat.
Pagi itu nggak ada bedanya dengan hari-hari sebelumnya. Nggak ada yang istimewa.
Sehari sebelumnya aku mendapat panggilan interview kerja yang ketiga kali dari sebuah perusahaan infrastructure, dan pagi itu aku duduk di ruang depan kantor itu, duduk sendiri, menunggu, sambil berdoa semoga Tuhan memberikan kesempatan bagiku untuk bekerja di kantor tersebut.
Lalu seseorang datang dan duduk di dekatku. Gayanya agak sedikit cuek, sederhana. Nggak jauh beda sih sama aku. Celana panjang, kemeja dan tas. Semuanya biasa saja.
Aku tersenyum sedikit sebelum menyapanya dan akhirnya kita pun mulai berbincang.
"Christina", katanya saat menyebutkan namanya. Dan akupun tak dapat menyembunyikan tawaku,"Wah, sama dong. Nama saya Christy". Dan semua tidak berhenti sampai disitu, masih banyak kesamaan-kesamaan lain yang terasa lucu dan menakjubkan. Sama-sama lima bersaudara, sama-sama berdarah Sumatera, sama-sama ini ... itu ... Dan hanya sesaat saja, aku merasa mungkin kita bisa jadi teman baik.
Dan ternyata memang iya.
Kami berdua sama-sama diterima di perusahaan tersebut. Dan akhirnya kami pun menjadi sahabat. Tapi bukan karena berbagai persamaan tadi, tapi justru karena berbagai perbedaan yang kami miliki yang akhirnya membuat kami dekat dan dapat bertahan dalam menghadapi berbagai kejadian sulit yang menghadang kami.
Suasana kantor baru ternyata benar-benar jauh dari kesan pertama yang kami dapatkan. Teamwork yang diagung-agungkan rasanya hanya slogan semata, belum lagi manajemen yang diktator. Wah, pokoknya ajaib deh. Terlalu banyak hal yang unreasonable.
Setiap jam makan siang, aku dan sahabat baruku selalu sharing. Saling mendukung, saling menguatkan, saling bercerita tentang apa saja. Tentang pekerjaan, keluarga, teman-teman dan juga tentang perjalanan iman kami.
Tuhan memang baiiikk ya ...
Di tengah-tengah suasana kerja yang bisa dibilang amat sangat tidak menyenangkan, justru kami berdua menjadi lebih dekat dan saling belajar satu sama lain.
Setelah 3 bulan bekerja, tiba-tiba aku mendapat tawaran pekerjaan di tempat lain, dengan bidang yang lebih sesuai dengan pendidikan dan kemampuanku.
Ketika aku mendiskusikan dengannya, dengan penuh semangat ia mendukung aku untuk pindah, walaupun secara pekerjaan mungkin akan berat baginya, karena dia harus menghadapi semua sendirian dan otomatis sebagian besar pekerjaanku juga akan dilimpahkan kepadanya.
Setelah berdoa dan merenungkan baik-baik, akhirnya aku memutuskan untuk pindah kerja. Dua minggu terakhir kugunakan untuk menyelesaikan sebanyak mungkin pekerjaan yang dapat kuselesaikan. Walaupun aku merasa kesal dengan perusahaan yang kurang menghargai karyawan, tapi aku tetap bekerja keras, anggap saja aku melakukannya untuk sahabatku dan beberapa teman baik yang mulai dekat denganku.
Hari terakhir di kantor.
Aku melangkah meninggalkan kantor dengan berbagai perasaan. Ada rasa sedih, karena harus meninggalkan teman-teman dan sahabatku, ada rasa senang karena akan ada pekerjaan baru yang menantiku, dan ada juga perasaan marah karena gaji dan ijazahku yang masih tertahan, karena alasan proses administrasi serah terima pekerjaan (salah satu keajaiban perusahaanku), padahal semua persyaratan sudah selesai aku penuhi.
Bodoh ya? Aku bilang aku kehilangan sahabat.
Padahal itu kan hal yang tak pernah terjadi. Sahabat tidak akan pernah hilang. Mereka akan selalu ada, dimanapun dan kapanpun.
Beberapa hari kemudian kami bertemu lagi dan seperti biasa kami sharing segala hal.
Dan dia memberiku sebuah buku yang bagus sekali, di depan dia menuliskan hal-hal yang baik tentangku, tentang hal-hal yang dia pelajari dariku, bagaimana untuk selalu tersenyum dan memperhatikan orang lain.
Lucu ya, padahal aku yang merasa belajar banyak darinya. Terkadang aku iri melihat pelayanannya di gereja serta ketekunannya. Perasaan yang memicu aku untuk berani melayani, menggunakan setiap talenta yang telah diberikan Tuhan.
Saat aku membacanya, aku merasa begitu istimewa, sekaligus aku merasa heran karena aku tidak pernah merasa mengajarkan apa-apa padanya.
Dan aku belajar satu hal lagi, belajar menghargai dan mengasihi diriku, suatu hal yang selama ini sulit kulakukan.
Persahabatan memang merupakan sesuatu yang indah.
Dalam persahabatan kita belajar untuk saling mendengarkan.
Saling menguatkan.
Saling mendoakan.
Saling memaafkan.
Tertawa bersama.
Bersedih bersama.
Mencoba meramu segala hal yang terjadi dalam kehidupan kita menjadi sesuatu yang indah disertai dengan ucapan syukur.
Kalau aku ingat kembali kejadian pagi itu, aku yakin itu bukan suatu kebetulan. Tuhan memang mengirimkannya untuk menjadi sahabatku.
Aku bersyukur untuk setiap sahabat yang telah dikaruniakan Tuhan untukku.
Di antaranya adalah kamu . Terima kasih buat persahabatan yang indah.
Sunday, August 07, 2005
What is friend??
to be your self" (frank Crane):
"Teman adalah seorang yang dihadapannya kita berani untuk menjadi
diri kita sendiri"
Sebuah definisi yang sederhana, namun apabila dengan definisi itu
kemudian kita bertanya pada diri kita, "pernahkah kita benar-benar
mempunyai setidaknya satu teman?" mungkin saja jawabnya
kemudian "belum atau tidak"
Ketika dihadapan semua orang kita masih saja tak pernah merasa aman,
orang tua dengan harapan-harapannya menjadikan kita tak terbiasa
jujur akan kegagalan, orang-orang yang dengan kejam melihat jijik
pada kekurangan kita, dan orang-orang yang kita anggap "teman" tetapi
pergi begitu tahu kelemahan kita. Dunia yang tidak pernah aman yang
tak mau menerima kekurangan-kekurangan telah menciptakan kita dengan
topeng-topeng yang tak pernah lepas sepanjang hari. Ketika berhadapan
dengan orang tua kita memakai topeng anak manis, dengan teman kita
memakai topeng gaul, dan topeng-topeng itu terus menumpuk bertambah
tebal dari hari?kehari.
Sehingga betapa sungguh bahagia seseorang yang dapat menemukan
seseorang yang dihadapannya ia berani menjadi diri sendiri,?.lepas,
tanpa topeng. Yang berarti yang telah menemukan seseorang yang dengan
kerelaan terdalam menerima kita apa adanya. Ya?.seorang teman yang
sesungguhnya.
Monday, July 25, 2005
Aku Tak Cinta
Oleh: Michael
Disadur: Tulang Rusuk
Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal.
Cassie menunggu dengan antusias. Kaki kecilnya bolak-balik melangkah dari ruang tamu ke pintu depan. Diliriknya jalan raya depan rumah. Belum ada. Cassie masuk lagi. Keluar lagi. Belum ada. Masuk lagi. Keluar lagi. Begitu terus selama hampir satu jam. Suara si Mbok yang menyuruhnya berulang kali untuk makan duluan tidak digubrisnya. Pukul 18.30.
"Tinnn.. Tiiiinnnnn...!!"
Cassie kecil melompat girang! Mama pulang! Papa pulang! Dilihatnya dua orang yang sangat dicintainya itu masuk ke rumah.
Yang satu langsung menuju ke kamar mandi. Yang satu menghempaskan diri di sofa sambil mengurut-urut kepala. Wajah-wajah yang letih sehabis bekerja seharian, mencari nafkah bagi keluarga. Bagi si kecil Cassie juga yang tentunya belum mengerti banyak. Di otaknya yang kecil, Cassie cuma tahu, ia kangen Mama dan Papa, dan ia girang Mama dan Papa pulang.
"Mama, mama.. Mama, mama..." Cassie menggerak-gerakkan tangan Mama. Mama diam saja.
Dengan cemas Cassie bertanya, "Mama sakit ya? Mananya yang sakit? Mam, mana yang sakit?"
Mama tidak menjawab. Hanya mengernyitkan alis sambil memejamkan mata.
Cassie makin gencar bertanya, "Mama, mama... mana yang sakit? Cassie ambilin obat ya? Ya? Ya?"
Tiba-tiba...
"Cassie!! Kepala mama lagi pusing! Kamu jangan berisik!" Mama membentak dengan suara tinggi.
Kaget, Cassie mundur perlahan. Matanya menyipit. Kaki kecilnya gemetar. Bingung. Cassie salah apa? Cassie sayang Mama... Cassie salah apa? Takut-takut, Cassie menyingkir ke sudut ruangan. Mengamati Mama dari jauh, yang kembali mengurut-ngurut kepalanya. Otak kecil Cassie terus bertanya-tanya: Mama, Cassie salah apa? Mama tidak suka dekat-dekat Cassie? Cassie mengganggu Mama? Cassie tidak boleh sayang Mama?
Berbagai peristiwa sejenis terjadi. Dan otak kecil Cassie merekam semuanya.
Maka tahun-tahun berlalu. Cassie tidak lagi kecil. Cassie bertambah tinggi. Cassie remaja. Cassie mulai beranjak menuju dewasa.
"Tinnn.. Tiiiinnnnn...!!"
Mama pulang. Papa pulang. Cassie menurunkan kaki dari meja. Mematikan TV. Buru-buru naik ke atas, ke kamarnya, dan mengunci pintu. Menghilang dari pandangan.
"Cassie mana?". "Sudah makan duluan, Tuan, Nyonya."
Malam itu mereka kembali hanya makan berdua. Dalam kesunyian berpikir dengan hati terluka: "Mengapa anakku sendiri, yang kubesarkan dengan susah payah, dengan kerja keras, nampaknya tidak suka menghabiskan waktu bersama-sama denganku? Apa salahku? Apa dosaku? Ah, anak jaman sekarang memang tidak tahu hormat sama orangtua! Tidak seperti jaman dulu."
Di atas, Cassie mengamati dua orang yang paling dicintainya dalam diam. Dari jauh. Dari tempat dimana ia tidak akan terluka.
"Mama, Papa, katakan padaku, bagaimana caranya memeluk seekor landak?"
Wednesday, June 29, 2005
When two people love each other
Cinta berpijak pada perasaan sekaligus akal sehat. Miskonsepsi pertama yang ditentang Bowman adalah manusia jatuh cinta dengan menggunakan perasaan belaka. Betul, kita jatuh cinta dengan hati. Tapi agar tidak menimbulkan kekacauan di kemudian hari, kita diharapkan untuk juga menggunakan akal sehat.
Bohong besar kalau kita bisa jatuh cinta dengan begitu saja tanpa bisa mengelak. Yang sesungguhnya terjadi, proses jatuh cinta dipengaruhi tradisi, kebiasaan, standar, gagasan, dan deal kelompok dari mana kita berasal.
Bohong besar pula kalau kita merasa boleh berbuat apa saja saat jatuh cinta, dan tidak bisa dimintai pertanggungjawaban bila perbuatan-perbuatan impulsif itu berakibat buruk suatu ketika nanti.
Kehilangan perspektif bukanlah pertanda kita jatuh cinta, melainkan sinyal kebodohan. Cinta membutuhkan proses, Bowman juga menolak anggapan cinta bisa berasal dari pandangan pertama. "Cinta itu tumbuh dan berkembang dan merupakan emosi yang kompleks," katanya.
Untuk tumbuh dan berkembang, cinta membutuhkan waktu. Jadi memang tidak mungkin kita mencintai seseorang yang tidak ketahuan asal-usulnya dengan begitu saja.
Cinta tidak pernah menyerang tiba-tiba, tidak juga jatuh dari langit. Cinta datang hanya ketika dua individu telah berhasil melakukan orientasi ulang terhadap hidup dan memutuskan untuk memilih orang lain sebagai titik fokus baru. Yang mungkin terjadi dalam fenomena "cinta pada pandangan pertama" adalah pasangan terserang perasaan saling tertarik yang sangat kuat bahkan sampai tergila-gila. Kemudian perasaan kompulsif itu berkembang jadi cinta tanpa menempuh masa jeda. Dalam kasus "cinta pada pandangan pertama", banyak orang tidak benar-benar mencintai pasangannya, melainkan jatuh cinta pada konsep cinta itu sendiri. Sebaliknya dengan orang yang benar-benar mencinta, mereka mencintai pasangan sebagai persolinatas yang utuh.
Cinta tidak menguasai dan mengalah, tapi berbagi. Bukan cinta namanya bila kita berkehendak mengontrol pasangan. Juga bukan cinta bila kita bersedia mengalah demi kepuasan kekasih. Orang yang mencinta tidak menganggap kekasih sebagai atasan atau bawahan, tapi sebagai pasangan untuk berbagi, juga untuk mengidentifikasi diri. Bila kita berkeinginan menguasai kekasih (membatasi pergaulannya, melarangnya beraktivitas positif, mengatur seleranya berbusana, selalu mengkritik semua kekurangannya) atau melulu mengalah (tidak protes bila kekasih berbuat buruk, tidak keberatan dinomorsekiankan), berarti kita belum siap memberi dan menerima cinta.
Cinta itu konstruktif.
Individu yang mencinta berbuat sebaik-baiknya demi kepentingan sendiri sekaligus demi (kebanggaan) pasangan. Dia berani berambisi, bermimpi konstruktif, dan merencanakan masa depan. Sebaliknya dengan yang jatuh cinta impulsif. Bukannya berpikir dan bertindak konstruktif, dia kehilangan ambisi, nafsu makan, dan minat terhadap masalah sehari-hari. Yang dipikirkan hanya kesengsaraan pribadi. Impiannya pun tak mungkin tercapai. Bahkan impian itu bisa menjadi subsitusi kenyataan.
Cinta tidak melenyapkan semua masalah Penganut faham romantik percaya cinta bisa mengatasi masalah. Seakan-akan cinta itu obat bagi segala penyakit (panacea). Kemiskinan dan banyak problem lain diyakini bisa diatasi dengan berbekal cinta belaka. Faktanya, cinta tidaklah seajaib itu. Cinta hanya bisa membuat sepasang kekasih berani menghadapi masalah. Permasalahan seberat apapun mungkin didekati dengan jernih agar bisa dicarikan jalan keluar. Orang yang tengah mabuk kepayang-berarti tidak benar-benar mencinta-cenderung membutakan mata saat tercegat masalah. Alih-alih bertindak dengan akal sehat, dia mengenyampingkan problem.
Cinta cenderung konstan
Ya, cinta itu bergerak konstan. Maka kita patut curiga bila grafik perasaan kita pada kekasih turun naik sangat tajam. Kalau saat jauh kita merasa kekasih lebih hebat dibanding saat bersama, itu pertanda kita mengidealisasikannya, bukan melihatnya secara realistis. Lantas saat kembali bersama, kita memandang kekasih dengan lebih kritis dan hilanglah segala bayangan hebat itu. Sebaliknya berhati-hatilah bila kita merasa kekasih hebat saat kita berdekatan dengannya dan tidak lagi merasakan hal yang sama saat dia jauh. Hal sedemikian menandakan kita terkecoh oleh daya tarik fisik.
Cinta terhitung sehat bila saat dekat dan jauh dari pasangan, kita menyukainya dalam kadar sebanding.
Cinta tidak bertumpu pada daya tarik fisik
Dalam hubungan cinta, daya tarik fisik memang penting. Tapi bahaya bila kita menyukai kekasih hanya sebatas fisik dan membencinya untuk banyak faktor lainnya. Saat jatuh cinta, kita menikmati dan memberi makna penting bagi setiap kontak fisik. Kontak fisik, ketahuilah, hanya terasa menyenangkan bila kita dan pasangan saling menyukai personalitas masing-masing. Maka bukan cinta namanya, melainkan nafsu, bila kita menganggap kontak fisik hanya memberi sensasi menyenangkan tanpa makna apa-apa. Dalam cinta, afeksi terwujud belakangan saat hubungan kian dalam. Sedang nafsu menuntut pemuasan fisik sedari permulaan.
Cinta tidak buta, tapi menerima
Cinta itu buta? Tidak sama sekali. Orang yang mencinta melihat dan menyadari sisi buruk kekasih. Karena besarnya cinta, dia berusaha menerima dan mentolerir. Tentu ada keinginan agar sisi buruk itu membaik. Namun keinginan itu haruslah didasari perhatian dan maksud baik. Tidak boleh ada kritik kasar, penolakan, kegeraman, atau rasa jijik. Nafsulah yang buta. Meski pasangan sangat buruk, orang yang menjalin hubungan dengan penuh nafsu menerima tanpa keinginan memperbaiki. Juga meninggalkan pasangan saat keinginannya terpuaskan, hanya karena pasangan punya secuil keburukan yang sangat mungkin diperbaiki.
Cinta memperhatikan kelanjutan hubungan
Orang yang benar-benar mencinta memperhatikan perkembangan hubungan dengan kekasih. Dia menghindari segala hal yang mungkin merusak hubungan. Sebisa mungkin dia melakukan tindakan yang bisa memperkuat, mempertahankan, dan memajukan hubungan. Orang yang sedang tergila-gila mungkin saja berusaha keras menyenangkan kekasih. Namun usaha itu semata-mata dilakukan agar kekasih menerimanya, sehingga tercapailah kepuasan yang diincar. Orang yang mencinta menyenangkan pasangan untuk memperkuat hubungan.
Cinta berani melakukan hal menyakitkan
Selain berusaha menyenangkan kekasih, orang yang sungguh-sungguh mencinta memiliki perhatian, keprihatinan, pengertian, dan keberanian untuk melakukan hal yang tidak disukai kekasih demi kebaikan. Seperti seorang ibu yang berkata "tidak" saat anaknya meminta es krim, padahal sedang flu.
Begitulah kita semua seharusnya bersikap pada pasangan....
I F YOU ..
in your life. *
What you speak about, you can bring about.*
*
*If you keep saying you can't stand your job, you might lose your job.
If you keep saying you can't stand your body, your body can become sick.
If you keep saying you can't stand your car, your car could be stolen or
just stop operating.
If you keep saying you're broke, guess what? You'll always be broke.
If you keep saying you can't trust a man or trust a woman, you will always
find someone in your life to hurt and betray you.
If you keep saying you can't find a job, you will remain unemployed.
If you keep saying you can't find someone to love you or believe in you,
your very thought will attract more experiences to confirm your beliefs.
If you keep talking about a divorce or break up in a relationship, then you
might end up with it.
Turn your thoughts and conversations around to be more positive and power
packed with faith, hope, love and action.
Don't be afraid to believe that you can have what you want and deserve.
Watch your Thoughts, they become words.
Watch your words, they become **actions
Watch your actions, they become habits.
Watch your Habits, they become character.
Watch your Character, for it becomes your Destiny.
The minute you settle for less than you deserve, you get even less than you
settle for.
"In the search for me, I discovered truth. In the search for truth, I
discovered love. In the search for love, I discovered God. And in God, I
have found everything."
~Author Unknown~*
Friday, June 24, 2005
Teman adalah Hadiah
Seperti hadiah, ada yang bungkusnya bagus dan ada yang bungkusnya jelek. Yang bungkusnya bagus punya wajah rupawan, atau kepribadian yang menarik. Yang bungkusnya jelek punya wajah biasa saja, atau kepribadian yang biasa saja, atau malah menjengkelkan.
Seperti hadiah, ada yang isinya bagus dan ada yang isinya jelek. Yang isinya bagus punya jiwa yang begitu indah sehingga kita terpukau ketika berbagi rasa dengannya, ketika kita tahan menghabiskan waktu berjam-jam, saling bercerita dan menghibur, menangis bersama, dan tertawa bersama. Kita mencintai dia dan dia mencintai kita.
Yang isinya buruk punya jiwa yang terluka. Begitu dalam luka-lukanya sehingga jiwanya tidak mampu lagi mencintai, justru karena ia tidak merasakan cinta dalam hidupnya. Sayangnya yang kita tangkap darinya seringkali justru sikap penolakan, dendam, kebencian, iri hati, kesombongan, amarah, dll.
Kita tidak suka dengan jiwa-jiwa semacam ini dan mencoba menghindar dari mereka. Kita tidak tahu bahwa itu semua BUKAN-lah karena mereka pada dasarnya buruk, tetapi ketidakmampuan jiwanya memberikan cinta karena justru ia membutuhkan cinta kita, membutuhkan empati kita, kesabaran dan keberanian kita untuk mendengarkan luka-luka terdalam yang memasung jiwanya.
Bagaimana bisa kita mengharapkan seseorang yang terluka lututnya berlari bersama kita? Bagaimana bisa kita mengajak seseorang yang takut air berenang bersama? Luka di lututnya dan ketakutan terhadap airlah yang mesti disembuhkan, bukan mencaci mereka karena mereka tidak mau berlari atau berenang bersama kita. Mereka tidak akan bilang bahwa "lutut" mereka luka atau mereka "takut air", mereka akan bilang bahwa mereka tidak suka berlari atau mereka akan bilang berenang itu membosankan dll. Itulah cara mereka mempertahankan diri.
Mereka akan bilang:
"Menari itu tidak menarik"
"Tidak ada yang cocok denganku"
"Teman-temanku sudah lulus semua"
"Aku ini buruk siapa yang bakal tahan denganku"
"Kisah hidupku membosankan"
Mereka tidak akan bilang:
"Aku tidak bisa menari"
"Aku membutuhkan kamu denganku"
"Aku kesepian"
"Aku butuh diterima"
"Aku ingin didengarkan"
Mereka semua hadiah buat kita, entah bungkusnya bagus atau jelek, entah isinya bagus atau jelek. Dan jangan tertipu oleh kemasan. Hanya ketika kita bertemu jiwa dengan jiwa, kita tahu hadiah sesungguhnya yang sudah disiapkanNya buat kita.
Thursday, June 16, 2005
Hadiah Terbaik Untuk Diri Sendiri
Akan tetapi, sekencang apapun kita menjauh dari kesulitan, ia tetap akanmenyentuh badan dan jiwa ini di waktu-waktu ketika ia harus datang berkunjung. Rumus besi kehidupan seperti ini, memang berlaku pada semua manusia, bahkan juga berlaku untuk seorang raja dan p! enguasa yang paling berkuasa sekalipun.
Sadar akan hal inilah, saya sering mendidik diri untuk ikhlas ketika kesulitan datang berkunjung. Syukur-syukur bisa tersenyum memeluk kesulitan. Tidak dibuat sakit dan frustrasi saja saya sudah sangat bersyukur. Pelukan-pelukan kebijakan seperti inilah yang datang ketika sang hidup sempat membanting saya dari sebuah ketinggian. Sakit memang, tapi karena ia sudah saatnya datang berkunjung, dan kita tidak punya pilihan lain terkecuali membukakan pintu rumah kehidupan, maka seterpaksa apapun hanya keikhlasanlah satu-satunya modal berguna dalam hal ini.
Senyum penerimaan terhadap kesulitan memang terasa kecut di bibir. Dan sebagaimana logam yang sedang dibuat menjadi patung indah, kesulitan memang terasa seperti semprotan panasnya api mesin las, dihajar oleh palu besar, kencangnya cubitan tang, menyakitkannya goresan-goresan amplas kasar, atau malah tidak enaknya bau cat yang menyelimuti selu! ruh badan patung logam. Semua tahu, kalau badan dan jiwa ini kemudian akan menjadi 'patung logam' yang lebih indah dari sebelumnya. Tetapi tetap saja ada sisa-sisa ketakutan - dan bahkan mungkin trauma - yang membuat kita manusia menghindar dari kesulitan.
Cuma selebar apapun goresan luka yang dibuat oleh kesulitan, ada mahluk yang amat berguna dan amat dibutuhkan dalam pengalaman-pengalaman menyakitkan ini, ia bernama sahabat. Tidak semua sahabat fasih memberikan nasehat. Tetapi dengan kesediaannya untuk mendengar, sinaran mata yang berisi empati, kesediaan untuk menjaga rahasia, sahabat menjadi permata berlian yang amat berguna dalam keadaan-keadaan ini.
Di rumah saya memiliki seorang sahabat yang amat mengagumkan. Dari segi pendidikan formal ia hanya tamatan SMU. Bahkan SMU tempat ia bersekolah dulu sudah bubar, sebagai tanda ia bukanlah berasal dari sekolah yang terlalu membanggakan. Namun nasehat serta keteladanan hidupnya kadang mengagumkan.
Di kantor saya memiliki sejumlah bawahan yang datang sama manisnya baik ketika dipuji maupun setelah di! maki. Seorang tetangga menelpon, mengirim SMS dan bahkan menyempatkan diri berkunjung ke rumah. Tidak untuk memberikan ceramah, hanya untuk mendengar. Seorang sahabat dekat yang memimpin sebuah raksasa teknologi informasi bahkan mengatakan bangga menjadi sahabat saya. Ketika tulisan ini dibuat, seorang sahabat lama yang tinggal di Surabaya menelepon, tanpa bermaksud menggurui ia mengutip kata-kata indah Confucius : 'Manusia salah itu biasa, tetapi menarik pelajaran dari kesalahan itu baru luar biasa'.
Apa yang mau saya tuturkan dengan semua ini, rupanya sahabat adalah hadiah paling berharga yang bisa kita berikan pada diri kita sendiri. Secara lebih khusus ketika kita ditimpa kesulitan yang menggunung. Sehingga patut direnungkan, kalau kita perlu menabung perhatian, empati, cinta buat para sahabat. Tidak untuk berdagang dengan kehidupan. Dalam arti, memberi dengan harapan agar diberi kelak. Melainkan, sebagaimana cerita dan pengalaman di atas, dalam dunia persahabatan, dalam memberi kita sebenarnya sudah diberi. Bahkan, setiap sahabat yang memberi perhatian dan empati pada sahabat lainnya, ketika itu juga mengalami the joy of giving. Ketika itu juga seperti ada beban di bahu yang berkurang jauh beratnya.
Ada memang orang yang memiliki banyak sekali teman. Kemana-mana namanya dipanggil orang. Cuman, sedikit diantara semua teman yang banyak ini kemudian bisa menjadi sahabat. Bercermin dari kenyataan inilah, maka saya lebih memusatkan diri untuk mencari dan membina sahabat. Jumlahnya memang tidak akan pernah banyak. Bahkan ia lebih sedikit dari jumlah jari tangan. Cuma sesedikit apapun jumlahnya, sahabat tetap sejenis hadiah terbaik yang bisa kita bisa berikan buat diri sendiri.
Mobil mewah memang bisa membawa kita ke tempat jauh lengkap dengan gengsinya. Rumah mewah memang bisa meningkatkan kenyamanan tinggal sekaligus meningkatkan kelas. Ijazah lengkap dengan gelarnya yang mentereng juga bisa meningkatkan percaya diri. Akan tetapi, baik mobil mewah, rumah mewah maupun ijazah tidak bisa menghadirkan empati yang menyentuh hati
Di sebuah Sabtu pagi, seorang sahabat yang membaca harian Kompas yang memberitakan bahwa saya mengundurkan diri dari jabatan presiden direktur di sebuah kelompok usaha amat besar di negeri ini, langsung menelepon saya dari tempat yang jauh. Ia berucap sederhana : 'saya bangga jadi teman Anda'. Inilah hadiah terbaik yang bisa dihadiahkan ke diri sendiri. Ia tidak dibungkus kado, ia juga tidak hanya datang ketika hari raya atau ulang tahun. Ia justru lebih sering datang ketika kita
amat membutuhkannya.
Sumber: Hadiah Terbaik Untuk Diri Sendiri oleh Gede Prama






