Friends at First Sight
Oleh: Angela Christy
Sering dengar istilah Love at first sight? Ah, kalo itu kan sudah biasa. Kali ini aku pengen cerita tentang satu istilah baru. Friends at first sight.
Kadang kalau dipikir-pikir, hidup itu memang ajaib ya.
Coba kita pikir, dalam hidup kita sudah berapa banyak orang yang datang dan pergi.
Ada beberapa yang datang lalu pergi dan terlupakan begitu saja.
Ada yang datang lalu pergi dan membuat kenangan yang indah dalam hati kita, namun seiring berlalunya waktu merekapun perlahan terlupakan.
Ada yang datang lalu pergi dan membawa perubahan yang begitu besar dalam kehidupan kita
Ada yang datang lalu pergi namun selalu ada dalam hati kita dan tak akan pernah terlupakan.
Lalu ada yang datang dan pergi dan datang lagi lalu pergi, namun sesungguhnya selalu ada bersama kita, baik dekat ataupun jauh, selalu menemani kita, selalu ada bila kita membutuhkan. Orang-orang mengagumkan ini merupakan berkat yang diberikan Tuhan buat kita, dan kita mengenal mereka dengan sebutan Sahabat.
Pagi itu nggak ada bedanya dengan hari-hari sebelumnya. Nggak ada yang istimewa.
Sehari sebelumnya aku mendapat panggilan interview kerja yang ketiga kali dari sebuah perusahaan infrastructure, dan pagi itu aku duduk di ruang depan kantor itu, duduk sendiri, menunggu, sambil berdoa semoga Tuhan memberikan kesempatan bagiku untuk bekerja di kantor tersebut.
Lalu seseorang datang dan duduk di dekatku. Gayanya agak sedikit cuek, sederhana. Nggak jauh beda sih sama aku. Celana panjang, kemeja dan tas. Semuanya biasa saja.
Aku tersenyum sedikit sebelum menyapanya dan akhirnya kita pun mulai berbincang.
"Christina", katanya saat menyebutkan namanya. Dan akupun tak dapat menyembunyikan tawaku,"Wah, sama dong. Nama saya Christy". Dan semua tidak berhenti sampai disitu, masih banyak kesamaan-kesamaan lain yang terasa lucu dan menakjubkan. Sama-sama lima bersaudara, sama-sama berdarah Sumatera, sama-sama ini ... itu ... Dan hanya sesaat saja, aku merasa mungkin kita bisa jadi teman baik.
Dan ternyata memang iya.
Kami berdua sama-sama diterima di perusahaan tersebut. Dan akhirnya kami pun menjadi sahabat. Tapi bukan karena berbagai persamaan tadi, tapi justru karena berbagai perbedaan yang kami miliki yang akhirnya membuat kami dekat dan dapat bertahan dalam menghadapi berbagai kejadian sulit yang menghadang kami.
Suasana kantor baru ternyata benar-benar jauh dari kesan pertama yang kami dapatkan. Teamwork yang diagung-agungkan rasanya hanya slogan semata, belum lagi manajemen yang diktator. Wah, pokoknya ajaib deh. Terlalu banyak hal yang unreasonable.
Setiap jam makan siang, aku dan sahabat baruku selalu sharing. Saling mendukung, saling menguatkan, saling bercerita tentang apa saja. Tentang pekerjaan, keluarga, teman-teman dan juga tentang perjalanan iman kami.
Tuhan memang baiiikk ya ...
Di tengah-tengah suasana kerja yang bisa dibilang amat sangat tidak menyenangkan, justru kami berdua menjadi lebih dekat dan saling belajar satu sama lain.
Setelah 3 bulan bekerja, tiba-tiba aku mendapat tawaran pekerjaan di tempat lain, dengan bidang yang lebih sesuai dengan pendidikan dan kemampuanku.
Ketika aku mendiskusikan dengannya, dengan penuh semangat ia mendukung aku untuk pindah, walaupun secara pekerjaan mungkin akan berat baginya, karena dia harus menghadapi semua sendirian dan otomatis sebagian besar pekerjaanku juga akan dilimpahkan kepadanya.
Setelah berdoa dan merenungkan baik-baik, akhirnya aku memutuskan untuk pindah kerja. Dua minggu terakhir kugunakan untuk menyelesaikan sebanyak mungkin pekerjaan yang dapat kuselesaikan. Walaupun aku merasa kesal dengan perusahaan yang kurang menghargai karyawan, tapi aku tetap bekerja keras, anggap saja aku melakukannya untuk sahabatku dan beberapa teman baik yang mulai dekat denganku.
Hari terakhir di kantor.
Aku melangkah meninggalkan kantor dengan berbagai perasaan. Ada rasa sedih, karena harus meninggalkan teman-teman dan sahabatku, ada rasa senang karena akan ada pekerjaan baru yang menantiku, dan ada juga perasaan marah karena gaji dan ijazahku yang masih tertahan, karena alasan proses administrasi serah terima pekerjaan (salah satu keajaiban perusahaanku), padahal semua persyaratan sudah selesai aku penuhi.
Bodoh ya? Aku bilang aku kehilangan sahabat.
Padahal itu kan hal yang tak pernah terjadi. Sahabat tidak akan pernah hilang. Mereka akan selalu ada, dimanapun dan kapanpun.
Beberapa hari kemudian kami bertemu lagi dan seperti biasa kami sharing segala hal.
Dan dia memberiku sebuah buku yang bagus sekali, di depan dia menuliskan hal-hal yang baik tentangku, tentang hal-hal yang dia pelajari dariku, bagaimana untuk selalu tersenyum dan memperhatikan orang lain.
Lucu ya, padahal aku yang merasa belajar banyak darinya. Terkadang aku iri melihat pelayanannya di gereja serta ketekunannya. Perasaan yang memicu aku untuk berani melayani, menggunakan setiap talenta yang telah diberikan Tuhan.
Saat aku membacanya, aku merasa begitu istimewa, sekaligus aku merasa heran karena aku tidak pernah merasa mengajarkan apa-apa padanya.
Dan aku belajar satu hal lagi, belajar menghargai dan mengasihi diriku, suatu hal yang selama ini sulit kulakukan.
Persahabatan memang merupakan sesuatu yang indah.
Dalam persahabatan kita belajar untuk saling mendengarkan.
Saling menguatkan.
Saling mendoakan.
Saling memaafkan.
Tertawa bersama.
Bersedih bersama.
Mencoba meramu segala hal yang terjadi dalam kehidupan kita menjadi sesuatu yang indah disertai dengan ucapan syukur.
Kalau aku ingat kembali kejadian pagi itu, aku yakin itu bukan suatu kebetulan. Tuhan memang mengirimkannya untuk menjadi sahabatku.
Aku bersyukur untuk setiap sahabat yang telah dikaruniakan Tuhan untukku.
Di antaranya adalah kamu . Terima kasih buat persahabatan yang indah.
Tuesday, August 09, 2005
Friends at First Sight
Subscribe to:
Post Comments (Atom)







No comments:
Post a Comment