Thursday, November 08, 2007

Ratatouille

Source: http://samjeff.net/2007/10/10/ratatouille/




Directed by Brad Bird
Jan Pinkava
(Credited as co-director)
Produced by Darla K. Anderson
John Lasseter
Brad Lewis
Written by Brad Bird
Story:
Jan Pinkava
Jim Capobianco
Brad Bird
Emily Cook
Kathy Greenberg
Starring Patton Oswalt
Lou Romano
Peter Sohn
Brad Garrett
Janeane Garofalo
Ian Holm
Brian Dennehy
Peter O’Toole
Music by Michael Giacchino
Editing by Darren T. Holmes
Distributed by Walt Disney Pictures

Film animasi ini menceritakan impian Remy, seekor tikus yang memiliki cita-cita ingin menjadi juru masak. Sejak awal, tikus yang satu ini memang unik, selalu tertarik terhadap masakan. Seperti manusia yang jatuh hati pada dunia memasak, ia juga antusias terhadap acara di televisi yang menayangkan demo memasak. Juga, membaca buku tentang masakan.
Suatu hari, ia menyadari bahwa rasa itu unik. Satu dengan yang lainnya berbeda. Namun perpaduan antara rasa-rasa itu dapat menambah kelezatan sebuah makanan.

Tetapi nasib apes sebagai seekor tikus, sang manusia tidak rela akan kehadirannya. Tikus yang identik dengan kotoran itu selalu menjadi musuh. Dor.. Dor.. Dor.. tembakan mengarah kepadanya.

Ia berusaha menyelamatkan diri. Tidak hanya dirinya malah, seluruh keluarga akhirnya terusir dari rumah seseorang dan melarikan diri dengan menaiki ‘perahu’.

Di lorong sungai, tikus hitam itu berpisah dengan keluarganya. Ia terdampar pada suatu tempat yang asing. Hanya buku memasak yang ia curi dari manisia yang menemainya. Yang aneh, buku yang memuat gambar seorang koki terkenal itu dapat berbicara dengannya.

“Lihatlah di sekitar,” saran sang koki. Akhirnya, ia mengikuti saran itu. “Ini adalah kota Paris,” ia dapat melihat menara Eiffel. Sebuah restoran megah berada di depannya –restoran yang membuatnya kagum: Gusteau’s Restorant.

Di balik jendela, ia melihat seseorang pemuda yang baru saja melamar pekerjaan sebagai pembantu juru masak di sana. Si pemuda itu terlihat bodoh dan tidak pandai dalam urusan rasa. Dan benar, ketika ia memasukkan bumbu-bumbu, semua tidak cocok untuk sebuah masakan bernama sup. Naluri memasak si tikus itu pun keluar.

Ia berusaha memperbaiki apa yang telah pemuda itu lakukan. Ia berjuang untuk menyelamatkan rasa sup itu walau dengan usaha yang keras.
Aksinya tidak panjang, ia ketahuan oleh pemilik restoran. “Tangkap!,” teriaknya. Dengan sigap, sang pemuda itu menangkapnya dan memasukkan dalam sebuah toples. “Bunuh dia,” perintah sang bos. Pemuda itu kemudian membawanya untuk dibuang ke sungai.

Sang pemuda yang putus asa itu pun heran, ketika ia akan menjatuhkan tikus itu ke sungai, binatang kecil itu ternyata bisa mengerti keluhannya. “Apakah saya dapat memasak?” tanyanya. Sang tikus menggelengkan kepala.

Tikus itu kemudian menunjukkan kalau dirinya bisa memasak.
Di rumah sang pemuda, akhirnya si tikus menemukan cara bagaimana ia bisa memanfaatkan pemuda itu untuk memasak. Caranya, ia berada di kepala dan menarik rambut untuk menggerakkan tangan sang pemuda. Ia berlatih secara keras dan akhirnya bisa menguasai ’setir’.

Sang pemuda itu menyajikan masakan-masakan yang dipesan. Masakannya mendapatkan pujian.

Karena memang tidak bisa memasak, kelebihannya dalam mengombinasikan rasa membuat orang penasaran. Di sinilah akhirnya timbul masalah. Si bos berusaha mencari tahu siapakah yang membantu sang pemuda itu? Dan jawaban terkuak, ternyata seekor tikus yang bersembunyi di kepala.

Suatu hari, ia pun akhirnya harus berterus terang terhadap kekasihnya, bahwa yang memasak bukanlah dirinya tetapi seekor tikus. Sang kekasih itu begitu terkejut dan merasa dikhianati. Ia pun meninggalkan pemuda itu dengan marahnya.

Dan… Tikus itu kemudian terusir dari restoran. “Tikus hanyalah tikus,” keluh si tikus –tak bisa menjadi koki.

Suatu ketika, di saat si tikus itu hilang dari pemuda, sang pemilik restoran itu dihadapkan situasi sulit. Ada seorang pengkritik makanan menantangnya untuk membuat masakan khusus –dan ia tidak tahu makanan apakah yang dipesan itu, apalagi dengan perginya sang tikus pemasak.

Bagaimanakah kisah kelanjutannya? Tikus itu akhirnya kembali. Sang penikmat makanan itu memuji masakannya pada sebuah review di surat kabar. Si tikus telah menyelamatkan nama besar restoran. (imponk/rsd)

Wednesday, June 27, 2007

Menjalin Hubungan...

Hubungan Yang Baik

Seandainya anda jadi saya, anda akan berpikir bahwa
mempertahankan hubungan adalah hal yang mudah.


Sewaktu kita kecil, kita tidak pernah berpikir untuk
dengan sengaja menjalin hubungan dengan seseorang.
Semua itu terjadi begitu saja dan jika karena suatu
alasan hubungan itu tidak berhasil, kita segera
meninggalkan tanpa pusing maupun repot-repot.


Namun suatu saat kita mulai mengenal percekcokan dalam
hubungan dewasa dan persoalan itu menjadi serba tidak
pasti. Mungkin kita pernah mengalami bahwa beberapa
orang lebih sulit, bahkan mustahil untuk diajak
bergaul dan kita mengetahui bahwa sahabat-sahabat
yang dipercaya pun dapat menghianati, serta
kritik-kritik destruktif yang dilontarkan dan
persahabatan pun mulai renggang. Namun kita tahu bahwa
kita tidak dapat memutuskan hubungan begitu saja
setiap kali menghadapi rintangan, kecuali jika ingin
menjadi pertapa. Ketika hubungan itu membuat kita
kesal, kadang-kadang berharap hidup tanpa hubungan
(menyendiri).

Andaikan kita hidup di sebuah kapal dan tidak menyukai
awak kapal, kita tidak akan menenggelamkan kapal itu
kecuali jika ingin bunuh diri. Saat badai datang
melanda, tentu kita akan mulai berjuang bersama-sama
dengan sekuat tenaga untuk menyelamatkanya atau
sebaliknya kapal akan tenggelam. Dalam hal seperti ini
pasti akan timbul pemahaman arti dari sebuah hubungan.


Namun hubungan yang baik tentu saja tidak hanya
terbatas ditempat kerja, tapi karakter seseorang dalam
menjalin hubungan dapat terlihat di tempat kerja,
karena sebagian dari hidup kita dihabiskan ditempat
kerja. Kebahagiaan seseorang bukan hanya diukur pada
kesukesan, kekayaan dan penampilan, tetapi hal yang
paling menentukan adalah hubungan dengan sesama
(hubungan yang akrab).


Jika hubungan menjadikan kita begitu bahagia, mengapa
tidak dari sekarang kita memulai untuk menjalin
hubungan yang sehat dan akrab? Dengan begitu kita
dapat membuat diri kita tenang dan yang terpenting
kedamaian ada disekitar kita.


Tidak semua orang 'enak' dijadikan teman,
tetapi itu bukan alasan untuk tidak memiliki hubungan baik dengan mereka.

Friday, June 15, 2007

A rose for you with LOVE

beberapa hari yang lalu aku mendapat kiriman satu lusin bunga dari temanku
aku cuma menyisakan satu bunga saja
yang lainnya aku kirimkan pada teman2ku
aku berikan satu bunga kepada adik perempuanku
semoga dapat memberikan dia
kebahagiaan selalu


yang satunya aku berikan pada temanku yang sedang sedih waktu itu
kekuatan bunga ini yang diberikan padanya
lebih dari yang kubayangkan sebelumnya

yang satu lagi aku berikan pada teman yang belum kenal lama
waktu itu dia sedang mempunyai masalah yang sangat rumit
semoga dengan bunga itu dia dapat tabah dan maju terus

bunga2 yang lainya aku kirimkan pada orang2 yang pernah membantuku
dalam hari2ku yang tidak bisa kulewatkan sendiri
mereka selalu ada
sungguh sangat memberikan aku kekuatan

bunga2 ini sangat indah
sehingga membuatku tidak tega menikmatinya sendiri saja
hanya aku sisakan satu kuntum yang belum mekar

teman memberikan bunga2 ini padaku
mendoakan agar bunga2 ini membawa kebahagiaan dalam hari2 ku
tetapi kebahagiaan yang kuterima paling besar adalah
mengirimkannya lagi pada teman2ku yang lain

yang ini untukmu , apakah kamu menyukainya?

teman adalah harta yang sangat berharga
mereka dapat membuatmu tersenyum
membantu dan mendukungmu menuju kesuksesan
sekalipun kita mempunyai banyak masalah entah itu masalah keluarga, cinta sampai masalah yang berat sekalipun

mereka meminjamkan sepasang telinganya
untuk berbagi berbagai hal2 yang indah denganmu
mereka selalu membuka hatinya untukmu

....beritahu semua rekanmu betapa kamu membutuhkan mereka....
itu berarti kamu masih saling membutuhkan yang selalu .....

Thursday, June 14, 2007

KUNCI KEGAGALAN

Kita semua tidak ingin gagal. Kita semua menghindari kegagalan.

Tetapi rupanya kegagalan sangat akrab dalam kehidupan kita.Banyak target yang tak tercapai , banyak cita-cita yang tak terealisir,dan banyak harapan tinggallah kosong.

Mengapa kita gagal dan tidak mencapai keberhasilan?

Mengapa kita belum berhasil dan menemui kegagalan?
Apakah kegagalan merupakan realitas wajib sehingga keberhasilan dapat
kita apresiasikan? Pertanyaan pertanyaan diatas sering menghantui kita dan memerlukan jawaban dari kita masing-masing.

Kegagalan tidak terjadi dalam semalam. Keberhasilanpun tidak dicapai dalam sehari. Kedua tesis di atas sangat sederhana tetapi juga sangat benar.

Saya teringat ucapan seorang dokter tetangga saya, ketika pulang mengantarkan tetangga kami yang kena serangan jantung ke rumah sakit gawat darurat. Dia berkata bahwa sebetulnya serangan jantung tidak datang dengan tiba-tiba, tetapi bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun penyakit jantung telah ditimbun mulai dari merokok terlalu banyak, minum kopi terlalu banyak, malas olahraga sehingga sedikit demi sedikit pembuluh darah semakin menyempit.

Akhirnya sedemikian sempitnya sehingga kegagalan jantung terjadi.
Benarlah bahwa kegagalan jantung tidak terjadi dalam semalam melainkan ditumpuk bertahun-tahun, sedikit demi sedikit.

Keberhasilan pun berlangsung dengan modus yang sama, sedikit demi sedikit keberhasilan ditumpuk sedemikian rupa sehingga keberhasilan itu lama kelamaan besar.

Secara teoritis jika seseorang mempelajari lima kata bahasa Inggeris perhari maka dalam setahun dia akan memiliki hampir dua ribu kosa kata dan dalam lima tahun pasti bisa menguasai sepuluh ribu kosa kata.

Tetapi berapa banyakkah orang yang lulus perguruan tinggi mampu berbahasa Inggris dengan lancar? Tidak banyak. Mengapa? Karena mereka gagal menghafal lima bahasa Inggeris perhari.

Masih banyak contoh dapat kita berikan tentang kebenaran tesis bahwa keberhasilan adalah kemampuan mengambil langkah-langkah kecil untuk mencapai hasil yang besar. Dan bahwa kegagalan adalah ketidakmampuan menghindari hal-hal kecil sampai ia menumpuk sedemikian besar dan tak terhindarkan lagi konsuekuensinya.

Maka rahasia kegagalan adalah gagal mengucapkan selamat pagi, gagal mengucapkan terima kasih, gagal minta maaf, gagal mengurangi sepiring nasi dari diet harian, gagal memberi perhatian pada seorang staff, gagal mengusulkan kenaikan pangkat anak buah, gagal tersenyum, gagal bertekun setengah jam, gagal berolahraga setengah jam per hari, gagal sholat
sepuluh menit per waktu, gagal membawa mobil ke bengkel untuk servis rutin, gagal menabung 5% dari penghasilan per bulan, gagal menutup mulut dari ucapan
tak bermutu, dan ribuan kegagalan kecil lainnya.

Orang bijak berkata berkata bahwa hal-hal kecil memang sepele, tetapi setia pada perkara-perkara kecil adalah hal yang besar.

Wednesday, June 13, 2007

Garam dan Telaga

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang
bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan.

"Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..",
ujar Pak tua itu. "Pahit. Pahit sekali", jawab sang tamu, sambil
meludah kesamping. Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak
tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu. Pak Tua itu, lalu
kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu.

"Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, "Bagaimana rasanya?".
"Segar.", sahut tamunya. "Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?", tanya Pak Tua lagi. "Tidak", jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.

"Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. "Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan
itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa
kamu lakukan.
Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."

Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. "Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan
merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu.
Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan "segenggam garam", untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.

Friday, October 07, 2005

Khasiat lain biji buah Alpukat

Buat yang doyan Alpuket.....
Buah alpukat memang sangat disukai oleh banyak
orang termasuk saya atau mungkin anda juga.
Daging buahnya bisa di buat juice segar atau untuk
campuran cake bisa juga dimakan langsung.
Tetapi tahukah anda bahwa selain buahnya ternyata
biji buah alpukat bisa dipergunakan untuk
menghilangkan amarah atau kekesalan anda
terhadap seseorang.
Hal tersebut telah di buktikan oleh beberapa ahli
peneliti gizi dan pangan dari USA dan U.K pada
konggres International Food & Drink beberapa waktu
lalu di New York.
Jangan langsung membuang biji alpukat setelah anda
memakan dagingnya, tetapi simpanlah biji alpukat
tersebut dalam suatu tempat karena mungkin suatu
saat anda akan membutuhkannya kembali.

Sesungguhnya hal ini masih dirahasiakan para
peneliti gizi & pangan, namun penulis mendapat
kehormatan untuk membocorkan hal ini kepada anda.

Berikut ADALAH cara memanfaatkan biji alpukat
untuk menghilangkan stress anda Yaitu dengan cara :


1. Lemparkan biji alpukat tersebut kepada orang
yang membuat anda kesal, dijamin maka stress anda
akan sembuh.


he..he... gitu aja kok dibaca lhooooooo
ayo kerja lagi. klo ga pulanggg aja gih

**semoga ga da yg lagi stressss**

Tuesday, August 09, 2005

Friends at First Sight

Friends at First Sight
Oleh: Angela Christy


Sering dengar istilah Love at first sight? Ah, kalo itu kan sudah biasa. Kali ini aku pengen cerita tentang satu istilah baru. Friends at first sight.

Kadang kalau dipikir-pikir, hidup itu memang ajaib ya.
Coba kita pikir, dalam hidup kita sudah berapa banyak orang yang datang dan pergi.
Ada beberapa yang datang lalu pergi dan terlupakan begitu saja.
Ada yang datang lalu pergi dan membuat kenangan yang indah dalam hati kita, namun seiring berlalunya waktu merekapun perlahan terlupakan.
Ada yang datang lalu pergi dan membawa perubahan yang begitu besar dalam kehidupan kita
Ada yang datang lalu pergi namun selalu ada dalam hati kita dan tak akan pernah terlupakan.
Lalu ada yang datang dan pergi dan datang lagi lalu pergi, namun sesungguhnya selalu ada bersama kita, baik dekat ataupun jauh, selalu menemani kita, selalu ada bila kita membutuhkan. Orang-orang mengagumkan ini merupakan berkat yang diberikan Tuhan buat kita, dan kita mengenal mereka dengan sebutan Sahabat.

Pagi itu nggak ada bedanya dengan hari-hari sebelumnya. Nggak ada yang istimewa.
Sehari sebelumnya aku mendapat panggilan interview kerja yang ketiga kali dari sebuah perusahaan infrastructure, dan pagi itu aku duduk di ruang depan kantor itu, duduk sendiri, menunggu, sambil berdoa semoga Tuhan memberikan kesempatan bagiku untuk bekerja di kantor tersebut.
Lalu seseorang datang dan duduk di dekatku. Gayanya agak sedikit cuek, sederhana. Nggak jauh beda sih sama aku. Celana panjang, kemeja dan tas. Semuanya biasa saja.
Aku tersenyum sedikit sebelum menyapanya dan akhirnya kita pun mulai berbincang.
"Christina", katanya saat menyebutkan namanya. Dan akupun tak dapat menyembunyikan tawaku,"Wah, sama dong. Nama saya Christy". Dan semua tidak berhenti sampai disitu, masih banyak kesamaan-kesamaan lain yang terasa lucu dan menakjubkan. Sama-sama lima bersaudara, sama-sama berdarah Sumatera, sama-sama ini ... itu ... Dan hanya sesaat saja, aku merasa mungkin kita bisa jadi teman baik.

Dan ternyata memang iya.
Kami berdua sama-sama diterima di perusahaan tersebut. Dan akhirnya kami pun menjadi sahabat. Tapi bukan karena berbagai persamaan tadi, tapi justru karena berbagai perbedaan yang kami miliki yang akhirnya membuat kami dekat dan dapat bertahan dalam menghadapi berbagai kejadian sulit yang menghadang kami.

Suasana kantor baru ternyata benar-benar jauh dari kesan pertama yang kami dapatkan. Teamwork yang diagung-agungkan rasanya hanya slogan semata, belum lagi manajemen yang diktator. Wah, pokoknya ajaib deh. Terlalu banyak hal yang unreasonable.
Setiap jam makan siang, aku dan sahabat baruku selalu sharing. Saling mendukung, saling menguatkan, saling bercerita tentang apa saja. Tentang pekerjaan, keluarga, teman-teman dan juga tentang perjalanan iman kami.
Tuhan memang baiiikk ya ...
Di tengah-tengah suasana kerja yang bisa dibilang amat sangat tidak menyenangkan, justru kami berdua menjadi lebih dekat dan saling belajar satu sama lain.
Setelah 3 bulan bekerja, tiba-tiba aku mendapat tawaran pekerjaan di tempat lain, dengan bidang yang lebih sesuai dengan pendidikan dan kemampuanku.
Ketika aku mendiskusikan dengannya, dengan penuh semangat ia mendukung aku untuk pindah, walaupun secara pekerjaan mungkin akan berat baginya, karena dia harus menghadapi semua sendirian dan otomatis sebagian besar pekerjaanku juga akan dilimpahkan kepadanya.

Setelah berdoa dan merenungkan baik-baik, akhirnya aku memutuskan untuk pindah kerja. Dua minggu terakhir kugunakan untuk menyelesaikan sebanyak mungkin pekerjaan yang dapat kuselesaikan. Walaupun aku merasa kesal dengan perusahaan yang kurang menghargai karyawan, tapi aku tetap bekerja keras, anggap saja aku melakukannya untuk sahabatku dan beberapa teman baik yang mulai dekat denganku.

Hari terakhir di kantor.
Aku melangkah meninggalkan kantor dengan berbagai perasaan. Ada rasa sedih, karena harus meninggalkan teman-teman dan sahabatku, ada rasa senang karena akan ada pekerjaan baru yang menantiku, dan ada juga perasaan marah karena gaji dan ijazahku yang masih tertahan, karena alasan proses administrasi serah terima pekerjaan (salah satu keajaiban perusahaanku), padahal semua persyaratan sudah selesai aku penuhi.

Bodoh ya? Aku bilang aku kehilangan sahabat.
Padahal itu kan hal yang tak pernah terjadi. Sahabat tidak akan pernah hilang. Mereka akan selalu ada, dimanapun dan kapanpun.
Beberapa hari kemudian kami bertemu lagi dan seperti biasa kami sharing segala hal.
Dan dia memberiku sebuah buku yang bagus sekali, di depan dia menuliskan hal-hal yang baik tentangku, tentang hal-hal yang dia pelajari dariku, bagaimana untuk selalu tersenyum dan memperhatikan orang lain.
Lucu ya, padahal aku yang merasa belajar banyak darinya. Terkadang aku iri melihat pelayanannya di gereja serta ketekunannya. Perasaan yang memicu aku untuk berani melayani, menggunakan setiap talenta yang telah diberikan Tuhan.
Saat aku membacanya, aku merasa begitu istimewa, sekaligus aku merasa heran karena aku tidak pernah merasa mengajarkan apa-apa padanya.
Dan aku belajar satu hal lagi, belajar menghargai dan mengasihi diriku, suatu hal yang selama ini sulit kulakukan.

Persahabatan memang merupakan sesuatu yang indah.
Dalam persahabatan kita belajar untuk saling mendengarkan.
Saling menguatkan.
Saling mendoakan.
Saling memaafkan.
Tertawa bersama.
Bersedih bersama.
Mencoba meramu segala hal yang terjadi dalam kehidupan kita menjadi sesuatu yang indah disertai dengan ucapan syukur.

Kalau aku ingat kembali kejadian pagi itu, aku yakin itu bukan suatu kebetulan. Tuhan memang mengirimkannya untuk menjadi sahabatku.

Aku bersyukur untuk setiap sahabat yang telah dikaruniakan Tuhan untukku.
Di antaranya adalah kamu . Terima kasih buat persahabatan yang indah.